A Letter I never Send

Hello, How are you today? Are you happy? How was your day? Did anything good happen to you? Do you need someone to talk to? Or maybe… a cup of coffee to keep you company? There are so many questions I want to ask you, but I never have the courage to send them. I always wonder how you’ve been. I find myself scrolling through your social media, waiting for a sign of you. A post, a thought, a glimpse of your day. Every time, I visit your blog, hoping to find something new you’ve written, but there’s nothing. Still, I keep coming back. It’s strange, I know… but it’s real. I admire you the way you think, the way you express yourself, and the quiet strength you carry. I hope you’re happy, truly. I hope you get through your days with peace in your heart. And whatever you’re facing right now, I hope you find the courage to keep going. Honestly, I’ll always be here the one who silently cheers for you, who wishes the best for you, and who’s ready to listen whenever you need someone to talk to.

Makna Cinta menurut versikuđź’•

 Setelah menyelami perasaan beberapa waktu ini, aku tersadar dan menemukan makna cinta menurut versiku. Cinta adalah sebuah penerimaan. Begitulah aku menerjemahkan kata cinta, makna tersebut kudapatkan saat aku mencoba mencari dengan menyelami dalamnya perasaan. Ku coba terus menyelam sampai pada dasar perasaan itu, disanalah aku menemukan makna cinta menurut versiku. Hahahaha

Penerimaan di sini bukan sekedar menerima orang yang kita cintai, namun menerima segalanya. Menerima saat dimana pertama kalinya cinta itu datang secara tiba-tiba menghampiri, karena yang aku rasakan cinta itu tak bisa ditebak kapan dan pada siapa ia akan berlabuh. Bahkan sempat aku mengelaknya dan berusaha lari darinya namun ternyata itu begitu menyulitkan. Aku bahkan sempat membohongi diri sendiri dan tak mau mengakuinya, lantas pada saat itu aku belum bisa menerima kehadiran cinta tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu akhirnya aku menyerah dan mulai bisa menerima kenyataan ini.

Lantas setelah aku bisa menerima perasaan ini, tak berhenti sampai di situ karena aku sadar bahwa mencintaimu bukanlah hal yang mudah. Ya aku harus menerima segalaa resiko dari pilihanku ini, dari awal aku sadar ini akan menjadi perjalanan yang sangat sulit, karena katanya menaklukan itu adalah milik seorang laki-laki. Aku yang tak punya pengalaman apa-apa tentang cinta dengan berani tetap melangkah dan siap menerima tantangan itu. Dicuekin, menahan rasa malu, tau kau suka dengan orang lain bahkan menahan rasa rindu semuaaaa aku lewati wkwkwk. Entahlah cinta itu ajaib bisa membuatku seperti itu, sampai aku tak mengenali diriku sendiri.

Aku sudah terbiasa dan sudah bisa menerima semua resiko yang ada walaupun dalam prosesnya begitu menyayat hati wkwkwk aku gak bisa bohong untuk melewati masa itu telah aku habiskan beribu-ribu atau mungkin berjuta-juta entahlah tak dapat kuhitung pasti air mata yang berjatuhan. Tapi anehnya entah kenapa aku terus bangkit dari rasa terpuruk itu, seolah harapan yang telah kubuat sendiri meyakinkan aku bahwa suatu saat nanti akan berujung indah.

Lantas bagaimana akhir dari cerita ini? Ya akhir yang tentunya harus aku terima dengan lapang dada pula. Entahlah aku tak tau pasti akan seperti apa ujung dari kisah ini, namun saat ini sebnarnya sudah bisa ditebak bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan wkwkwk. Ini yang paling sulit untuk aku terima, karena harapan yang telah kubuat begitu besar padanya dan ini yang membuatku kecewa teramat parah saat harapan itu tak sesuai dengan kenyataan. Namun, aku aku sadar yang membuat aku kecewa adalah aku diriku sendiri bukan orang lain, harapan-harapan yang aku buat yang menyebabkan itu semua sampai pada detik ini aku belajar bagaimana menerima akhir dari kisahku ini yaitu bertepuk sebelah tangan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernikahan

Kisahku dan Buku

A Letter I never Send